Selasa, 22 Februari 2011

MENGATASI PROBLEM KELUARGA

Upaya yang harus dilakukan dalam mengatasi problem keluarga

"Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan mengkayakan mereka dengan karuniaaNya. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui." (QS. An Nuur (24) : 32).

Salah satu anjuran Rasulullah untuk Menikah :
Rasulullah SAW bersabda: "Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku !"(HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a.).

Pernikahan menyatukan dua energi besar untuk sama-sama berjuang menggapai ridlo Allah SWT. Penyatuan energi sehingga membentuk suatu sinergi tentunya membutuhkan waktu untuk saling menyesuaikan diri. Dalam proses penyesuaian itulah akan banyak ditemui ketidakcocokan, pergesekan yang menimbulkan konflik dari masing –masing pasangan. Betapa tidak masing-masing memiliki latar belakang budaya, kebiasaan, karakter yang berbeda untuk diselaraskan sesuai dengan keinginan Allah SWT dalam sebuah pernikahan.

Agar konflik dan masalah dalam berrumah tangga dapat diminimalisir maka setiap pasangan harus memiliki pengetahuan yang cukup sebelum mereka memasuki jenjang pernikahan, sehingga dalam mengarungi bahtera rumah tangga mereka sudah siap menghadapi goncangan, pergesakan dan hambatan yang ada.


Pernikahan

Pernikahan adalah konsep sakral dari sebuah kontak (ijab Qobul) secara syah yang dilakukan oleh pasangan lelaki dan perempuan sesuai tata nilai hukum yang berlaku, baik hukum positif maupun hukum religius.

Ijab artinya mengemukakan atau menyatakan suatu perkataan. Qabul artinya menerima. Jadi Ijab qabul artinya seseorang menyatakan sesuatu kepada lawan bicaranya, kemudian lawan bicaranya menyatakan menerima. Ijab qabul adalah seorang wali atau wakil dari mempelai perempuan mengemukakan kepada calon suami anak perempuannya/ perempuan yang di bawah perwaliannya, untuk menikahkannya dengan lelaki yang mengambil perempuan tersebut sebagai isterinya. Lalu lelaki bersangkutan menyatakan menerima pernikahannya itu.

Diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa:Sahl bin Said berkata: "Seorang perempuan datang kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam untuk menyerahkan dirinya, dia berkata: "Saya serahkan diriku kepadamu." Lalu ia berdiri lama sekali (untuk menanti). Kemudian seorang laki-laki berdiri dan berkata: "Wahai Rasulullah kawinkanlah saya dengannya jika engkau tidak berhajat padanya." Lalu Rasulullah shallallahu alaih wa sallam bersabda: "Aku kawinkan engkau kepadanya dengan mahar yang ada padamu." (HR. Bukhari dan Muslim).

Secara umum tujuan suatu penikahan menurut Islam adalah untuk mencapai ridho Allah, secara khusus yakni :
1. Mengabdi ke hadapan Allah.
2. Malaksanakan sunnah Rasulullah.
3. Melanjutkan generasi muslim sebagai pengemban risalah Islam.
4. Membentuk suatu masyarakat islami.
5. Mendapatkan ketenangan jiwa.

"Dan orang-orang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka mereka ( adalah) menjadi penolong sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". (QS At-Taubah: 71)

Percekcokan dalam Rumah Tangga

Dalam suatu interaksi dua manusia yang berlatar belakang beda baik secara kultur, karakter dan gaya hdup sudah dapat dipastikan tidak akan lepas dari suatu pergesekan nilai dan kebiasaan, sehingga menimbulkan suatu percekcokan.Hal ini sangat wajar dan manusiawi, jangankan pasangan seperti kita manusia biasa, rumah tangga Rasulullah pun tidak lepas dari percekcokan, yang membedakannya dengan kita Rasulullah memiliki akhlaq yang mulia dan dibimbing oleh Allah untuk menjadi contoh bagi ummatnya.

Banyak keluarga muslim yang hanya karena masalah kecil mengakhiri pernikahan, suatu ikatan yang telah Allah kokohkan. Masalah bisa saja hanya bermula dari salah persepsi karena komunikasi yang tidak lancar sehingga menimbulkan salah pengertian atau mungkin kebiasaan kecil suami yang tidak disukai isteri atau juga ketidaktepatan mengekspresikan emosi seperti kecewa, marah. Semuanya bisa saja terjadi hanya saja ada pasangan yang mampu mengatasi masalah kecil tersebut dengan baik ada juga yang tidak mampu menyelesaikannya sehingga masalah kecil tersebut menumpuk dan menjadi bom waktu yang akan menghancurkan bahtera rumah tangga yang sedang dibangun.

Faktor-faktor penyebab terjadinya percekcokan dalam rumah tangga adalah:

1. Kurang lancarnya komunikasi

Komunikasi menjadi bagian yang sangat penting dalam berrumah tangga, bagaimana mungkin masing-masing pasangan mengetahui keinginan dan harapan pasangannnya kalau tidak adanya komunikasi yang baik sehingga keinginan dan harapan tersampaikan dan tidak salah persepsi. Seorang suami atau isteri hendaknya menyampaikan pesan dengan lembut dan baik, tentunya dengan mempertimbangkan pula waktu dalam menyampaikan pesan tersebut.

Suami yang baru saja pulang kerja dengan badan yang lelah dan perut yang lapar tidak mungkin seorang isteri menyampaikan keluhannya sepanjang siang itu, tapi harus menunggu waktu yang tepat dimana suami dalam keadaan yang santai dan tenang

2. Kurangnya pengetahuan/ ilmu

Sebelum memasuki jenjang berrumah tangga calon suami atau isteri sebaiknya menggali dan menyempurnakan ilmu tentang pernikahan, dengan ilmu maka kita akan paham seperti apa rumah tangga yang dicontohkan Rasulullah dan bagaimana melajukan bahtera di tengah lautan kehidupan yang bergelombang.

3. Kurangnya pengendalian diri masing-masing pasangan

Sebelum menikah mungkin segalanya tampak indah di depan mata. Satu, dua, tiga bulan pertama semuanya bak di syurga dunia, tapi ketika usia pernikahan memasuki bulan keempat mulailah masalah bermunculan. Disini kita harus mampu mengendalikan diri kita. Kemampuan kita dalam mengendalikan diri diuji oleh Allah. Sikap yang tepat dalam menghadapi dan mengatasi masalah adalah dengan senantiasa berlindung dan memohon pertolongan Allah untuk tetap tenang, diberi kemudahan untuk berpikir jernih dan bertindak tepat.

Banyaklah belajar dari pengalaman orang-orang yang sudah berpengalaman dalam berrumah tangga, khususnya keluarga-keluarga mukmin, bagaimanakah mereka mengatasi konflik rumaha tangga, bagaimanakah mereka mengendalikan diri ketika menghadapi masalah.

4. Tidak adanya kesadaran sebagai hamba

Seorang hamba Allah sepanjang hidupnya selalu mengabdi, segala aktifitasnya harus selalu bernilai ibadah di hadapan Allah dalam QS. Adz Dzaariyaat : 55 dikatakan ” dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk mengabdi (beribadah) kepadaKu”

Maka seorang hamba Allah akan meninggalkan semua sikap dan perilakunya yang tidak bernilai ibadah. Semua yang dilakukannya harus untuk dan atas nama Allah, dengan bertitik tolak pada ”Sukakah Allah dengan apa yang akan kulakukan?”

Benarkah Budaya Jawa ”Nrimo” Sesuai Syariat Islam?

Perempuan adalah mahluk yang sangat istimewa dengan kehalusan budi pekerti, kelembutan cinta, wajah nan anggun berwibawa, suara yang lirih, langkah yang gemulai dan sikap yang taat, patuh, hormat pada orang tua serta berbakti pada suami, merupakan gambaran perempuan di mata bangsa Jawa dan beberapa bagian di Indonesia. Tabu jika ada seorang perempuan yang lantang, memberontak terhadap suatu keputusan orang tua atau suaminya, melanggar adat katanya. Bahkan ketika seorang suami menyakitinya, menjadikannya isteri simpanan pun tabu baginya untuk menolak apa lagi melawan.

Nilai-nilai tersebut semakin menguat dengan datangnya Islam ke Pulau Jawa, walau salah kaprah dalam memahaminya budaya ’nrimo’ sudah menjadi bagian dari kehidupan beragama di Jawa. Suami adalah pimpinan rumah tangga sehingga apa yang dikatakannya mutlak harus ditaati ’pamali’ jika membantah atau menolak.

Sebenarnya perintah taat dalam Islam tidak demikian, selalu diikuti kata ”selama pimpinan (baik kepala rumah tangga, pemimpin masyarakat dan pimpinan negara) tersebut tunduk dan taat kepada Allah dan RasulNya.

Ketaatan kepada ulil amri merupakan ketaatan bersyarat yakni taat manakala ulil amri tersebut berpegang teguh kepada Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah, apalagi ketaatan terhadap seorang suami. Taat dan patuh kepada suami adalah semata-mata hanya karena Allah telah memerintahkannya, sehingga semua yang dilakukan suami atau isteri akan bernilai ibadah manakala ia melakukannya atas nama Allah SWT, mencintai suami atau isteri merupakan bentuk kecintaan terhadap Allah SWT.

Manakala seorang pimpinan berbuat menyimpang dari Al Qur’an dan sunnah Rasulullah maka ketaatan tersebut menjadi batal adanya. Dalam berrumah tangga jika suami berbuat salah maka isteri wajib mengingatkannya, mengajaknya kembali ke jalan yang benar, tetapi jika berbagai cara telah dilakukan untuk mengingatkan suami maka suami tersebut tidak wajib untuk ditaati, sehingga ’nrimo’ nya Jawa tidak berlaku. Dalam hal ini manakala suami menyimpang dari ketentuan Allah SWT maka isteri tampil bak seorang ’Srikandi’ di medan perang gigih berjuang melemahkan nafsu syetan yang ada dalam diri suami.

Seperti telah disebutkan di atas QS At Taubah : 71 "Dan orang-orang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka mereka ( adalah) menjadi penolong sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". (QS At-Taubah: 71)

Suami isteri harus merupakan penolong menyuruh pada yang ma’ruf dan mencegah pada hal yang munkar, sehingga ketika percekcokan suami isteri karena salah satunya menyimpang dari ketentuan Allah, maka pasangannya mengingatkan dan meluruskannya, sehingga percekcokan tersebut akan bernilai ibadah. Percekcokan inilah yang dibenarkan oleh Allah SWT dan bahkan dianjurkan, seperti dalam hadits Bukhori Muslim
”Jika melihat kemunkaran cegahlah dengan tanganmu, jika tidak mampu cegah dengan lisanmu dan jika tidak mampu cukuplah dengan hati maka itulah selemah-lemahnya iman”

Suami dan Isteri Sebagai Partner

Era globalisasi informasi telah mengubah pandangan tentang wanita dan isteri, posisi wanita bukan berada di bawah telunjuk pria atau kaum suami tetapi memiliki kedudukan yang sama bahkan lebih tinggi. Fenomena pandangan tentang wanita ’mampu mengerjakan semua pekerjaan seperti halnya pria’ telah menyeret wanita meniggalkan fitrahnya,banyak ditemukan keputusan dan pengelolaan rumah tangga mutlak di tangan isteri, sehingga suami kehilangan wibawa dan pengaruhnya dalam memimpin rumah tangga.

Islam dien yang menjunjung tinggi wanita, dalam Islam wanita adalah partner dalam menjalani biduk rumah tangga. Wanita dan pria sama-sama sebagai subyek bukan obyek. Namun tetap pria dengan berbagai kelebihan yang Allah berikan ia sebagai pemimpin dalam berrumah tangga. Isteri dalam hal ini sebagai partner, sebagai wakil di rumah tangga.

Jika fitrah yang Allah tetapkan ini dilanggar maka lihatlah kesudahan orang-orang yang tidak mentaati ketetapan Allah SWT, malapetaka dan kehancuran yang akan didapat., serta jauh dari rahmat dan kasih sayang Allah SWT.

Menjalankan peran sebagai subyek dalam rumah tangga, berarti isteri memiliki kewajiban untuk menolong, meluruskan suami ketika suami berbuat menyalahi aturan Allah SWT, sudah barang tentu sebaliknya jika isteri menyimpang dari jalan Allah SWT maka suami berkewajiban mendidik dan mengarahkannya ke jalan yang benar.

Jika dalam menjalankan perannya baik suami atau isteri tidak mau mendengarkan tausyiah kita maka percekcokan akan terjadi, namun percekcokan ini akan menjadi ibadah di hadapan Allah, sehingga tidak perlu khawatir selama kita benar sesuai dengan ketetapan Allah janganlah takut atau merasa bersalah pada saat kita harus adu mulut atau mungkin adu otot dengan pasangan kita.

Dari uraian di atas maka sebaiknya calon isteri atau suami sebelum memasuki jenjang pernikahan, sempurnakanlah ilmu dan pengetahuan tentang berrumah tangga sesuai tuntunan Rasulullah SAW .Melalui tahapan seperti di bawah ini :

1. Ta’aruf

” Hai manusia sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal.” (QS.Al Hujurat : 13)

Ta’aruf tidak identik dengan pacaran, ta’aruf artinya saling mengenali diri masing- masing. Proses ta’aruf sebelum menikah hanya dibolehkan jika sesuai syariat yang telah Allah tetapkan, bukan liar dan tidak terkontrol. Ta’aruf yang dibenarkan memiliki rambu-rambu sebagai berikut :
- bertujuan mengenali pasangan untuk menuju jenjang pernikahan (bukan untuk eksploitasi hawa nafsu)
- tidak berduaan, harus ada muhrim dari pihak calon mempelai perempuan
- pembicaraan tidak mengarah pada hal-hal yang menimbulkan birahi
- saling menyesuaikan diri satu sama lain
Dalam ta’aruf ini hendaknya masing-masing pasangan saling bertanya mengenai :
- Apa yang menjadi tujuan dan hidup pasangannya?
- Apa saja yang disukai?
- Apa yang dibenci?
- Apa saja yang membuatnya kecewa?
- Apa saja yang membuatnya marah ?
- Apa cita-citanya?
- Apa tujuan menikah?
- Bagaimana cara mengatasi masalah selama ini?
- Dan lain sebagainya.
Sehingga jika masing-masing pasangan mengenai kebiasaan dan sifat calon istri atau suaminya, ia memiliki bahan untuk saling menyesuaikan diri.

2. Tafahum

Tafahum adalah saling memahami, setelah masing-masing pasangan saling mengenal maka tahapan selanjutnya adalah saling paham, mengerti dan menyesuaikan diri kebiasaan masing-masing, sehingga semua masalah dihadapi dengan tenang karena masing-masing mengetahui cara pandangnya.

3. Ta’awun

"Dan orang-orang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka mereka ( adalah) menjadi penolong sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". (QS At-Taubah: 71)

Ta’awun berarti saling menolong, seperti ayat di atas bahwa suami/isteri adalah penolong bagi pasangannya, saling mengingatkan dalam kebenaran dan kebaikan dengan penuh kasih sayang.

4. Takaful

Takaful artinya penyeimbang, pasangan suami isteri harus menjadi peny

Kiat Mengatasi Problem Seks Pascakehamilan

Bagi perempuan, seks pascakehamilan atau persalinan boleh jadi tak terlintas atau sedikit saja muncul dalam pikirannya. Meski begitu, Anda dan pasangan juga perlu memahami adanya ekspektasi atau perlunya upaya untuk mengembalikan kembali intimasi.

Berikan waktu untuk pemulihan
Lamanya waktu yang dibutuhkan perempuan untuk pemulihan pascapersalinan bergantung pada kondisi masing-masing. Baik melahirkan normal maupun melalui operasi caesar, tubuh perempuan membutuhkan waktu untuk sembuh. Biasanya, dokter menyarankan pasangan untuk berhubungan seks enam minggu pascapersalinan. Waktu inilah yang dibutuhkan serviks untuk menutup kembali, pendarahan berhenti, atau pemulihan organ reproduksi lainnya.

Atasi kekhawatiran Anda
Khawatir sakit, rasanya berubah, atau berbeda menjadi masalah psikis bagi pasangan untuk berhubungan seks pascakehamilan. Yang perlu dipahami adalah, menyadari bahwa terjadi perubahan hormonal pada vagina yang membuatnya kering dan kendur. Untuk mengatasi problem ini, cobalah untuk melakukan seks lebih santai dan tenang. Mulailah dengan saling memeluk, mencium, dan memijat. Secara bertahap, bangunlah intensitas stimulasi seksual. Jika masalah utamanya terletak pada vagina yang kering, maka tak perlu sungkan menggunakan krim lubrikasi atau gel. Lakukan variasi posisi hubungan seks. Agar berjalan lancar, bangun komunikasi dengan pasangan lebih efektif lagi. Yang juga perlu diperhatikan perempuan adalah fokuslah pada intimasi hubungan seks. Tinggalkan sementara pikiran yang mengganggu seputar popok, pakaian kotor bayi, dan pekerjaan rumah tangga lainnya.

Masalah lain yang kerap kali mengganggu psikis perempuan adalah perubahan fisik, terutama vagina. Pascapersalinan, wajar saja jika otot vagina mengendur. Akibatnya, Anda sulit terangsang. Tenang saja, kondisi ini hanya berlangsung sementara. Lakukan latihan kegel untuk mengembalikan kekencangan otot vagina.

Bagaimana dengan kontrasepsi?
Jika Anda belum siap hamil lagi, maka sebaiknya konsultasikan masalah kontrasepsi kepada dokter Anda. Pilih kontrasepsi yang nyaman. Dengan perencanaan yang matang, Anda tentu lebih bisa menikmati seks pascakehamilan, tanpa khawatir kebobolan.

Terlalu lelah dan tak tertarik dengan seks
Hamil dan melahirkan melelahkan bagi perempuan. Jika perasaan atau memang tubuh Anda lelah setelah seharian mengasuh bayi, maka komunikasikan hal ini dengan pasangan. Menolak hubungan seks saat lelah tak berarti Anda tak ingin lagi berhubungan seks. Pertimbangkan untuk berhubungan seks pagi hari saat bayi terlelap tidur. Kondisi badan Anda juga sudah lebih segar pada waktu ini.

Hilangnya ketertarikan pada seks adalah normal bagi perempuan pascakehamilan. Seks bukan satu-satunya cara membangun kembali intimasi dengan pasangan. Yang penting, terbukalah dengan pasangan mengenai masalah yang Anda hadapi ini. Akan menjadi sulit ketika pasangan tak memahami dan tak terbuka dengan masalah Anda. Jika sudah begini, maka Anda berisiko mengalami depresi pascapersalinan. Segeralah mencari bantuan medis dan berkonsultasi dengan dokter Anda jika mengalami depresi.

Kembali normal dalam satu tahun
Perlu dipahami, banyak perubahan dialami pasangan, terutama perempuan pascakehamilan. Jika Anda masih belum siap berhubungan seks, dan pasangan memahami Anda, maka fokuskan pikiran Anda pada hal lain. Hal itu misalnya mengembalikan kembali kebugaran tubuh dengan cara:

* Buat target sambil menyesuaikan dengan peran Anda sebagai ibu.
* Menerima dan menghargai perubahan yang terjadi dalam tubuh Anda.
* Makan makanan sehat dan minumlah lebih banyak.
* Rutin menjalani aktivitas fisik.
* Istirahatlah lebih sering.
* Minta dukungan pasangan dan keluarga.
* Bergabung dalam komunitas ibu muda yang memiliki pengalaman serupa dengan Anda.

8 Problem Utama Rumah Tangga Yang Sering Muncul Dan Cara Mengatasinya

Kehidupan rumahtangga tidak selamanya berjalan mulus. Sesekali, pasti ada saja gelombang yang menerpa. Nah, seberapa besar masalah yang datang, semua tergantung bagaimana Anda dan suami menyikapinya.

Komunikasi yang kurang bagus sering menjadi pangkal utama masalah 
muncul antara pasangan suami istri
Komunikasi yang kurang bagus sering menjadi pangkal utama masalah muncul antara pasangan suami istri
Persoalan dalam rumah tangga yang menjadi sumber konflik, bisa disebabkan oleh banyak hal. Bahkan, masalah yang seharusnya tidak diributkan pun bisa menjadi persoalan besar yang tak kunjung selesai. Namanya juga menyatukan dua kepribadian, pasti tak gampang. Yang penting adalah, bagaimana Anda menjadikan perbedaan itu menjadi sesuatu yang indah. Di bawah ini ada 8 sumber konflik yang perlu diketahui pasangan dan bagaimana menyelesaikannya:

1. PENGHASILAN

Penghasilan suami lebih besar dari penghasilan istri adalah hal yang biasa. Namun, bila yang terjadi kebalikannya, si istri yang lebih besar, bisa-bisa timbul masalah. Suami merasa minder karena tidak dihargai penghasilannya, sementara istri pun merasa dirinya berada di atas, sehingga jadi sombong dan tidak hormat lagi pada pasangannya.
Solusi
Walaupun penghasilan Anda lebih besar dari suami, cobalah untuk bersikap bijaksana dan tetap menghormatinya. Hargai berapa pun penghasilannya, sekalipun secara nominal memang sedikit. Pasalnya, jika Anda terus menerus mempersoalkan penghasilan suami, persoalan bisa malah membesar.

2. ANAK

Ketidakhadiran anak di tengah-tengah keluarga juga sering menimbulkan konflik berkepanjangan antara suami-istri. Apalagi jika suami selalu menyalahkan isri sebagai pihak yang mandul. Padahal, butuh pembuktian medis untuk menentukan apakah seseorang memang mandul atau tidak.
Solusi
Daripada membiarkan masalah tersebut berlarut terus-menerus, lebih baik bicarakan dengan suami. Ajaklah suami untuk bersama memeriksakan kondisi diri ke dokter. Jika dokter mengatakan bahwa Anda dan suami sehat, kenapa harus resah dan saling menuduh? Kan, tinggal menunggu waktunya saja. Bisa jadi, kesabaran Anda dan pasangan tengah diuji oleh yang Maha Kuasa. Namun, bila memang sudah bertahun-tahun kehadiran si kecil belum datang juga, Anda dan suami bisa menempuh cara lain, dengan adopsi anak misalnya.

3. KEHADIRAN PIHAK LAIN

Kehadiran orang ketiga, misalnya adik ipar ataupun sanak famili, dalam keluarga kadangkala juga menjadi sumber konflik dalam rumahtangga. Hal sepele yang seharusnya tidak diributkan bisa berubah menjadi masalah besar. Misalnya soal pemberian uang saku kepada adik ipar oleh suami yang tidak transparan.
Solusi
Keterbukaan adalah soal yang utama. Sebelum Anda dan suami memberikan bantuan, baik ke pihak Anda ataupun suami, sebaiknya terlebih dulu dibicarakan, berapa dana yang akan dikeluarkan, dan siapa saja yang bisa dibantu. Dan ini harus atas dasar kesepakatan bersama. Agar jangan saling curiga, adakan sistem silang. Artinya, untuk bantuan kepada keluarga Anda, suami-lah yang memberikan, demikian juga sebaliknya. Dengan demikian, semuanya akan transparan dan tidak ada lagi jalan belakang.

Suami-istri bertengkar itu soal biasa. Bahkan, kata orang tua, pertengkaran adalah bumbunya perkawinan. Namun, tentu akan lebih baik jika rumah tangga selalu rukun. Terus-terusan berantem, lama-lama bisa fatal juga

4. SEKS

Masalah yang satu ini seringkali menjadi sumber keributan suami-istri. Biasanya yang sering komplain adalah pihak suami yang tak puas dengan layanan istri. Suami seperti ini umumnya memang egois dan tidak mau tahu. Padahal, banyak hal yang menyebabkan istri bersikap seperti itu. Bisa karena letih, stres ataupun hamil.
Solusi
Istri atau suami yang punya masalah dengan hubungan seks dengan pasangan, sebaiknya berterus-terang. Ini agar pasangan tidak curiga dan menuduh yang macam-macam. Ungkapkan saja keadaan Anda, dan mengapa gairah seks Anda menurun. Suami atau istri yang baik pasti memahami kondisi tersebut dan tidak akan banyak menuntut.

5. KEYAKINAN

Biasanya, pasangan yang sudah berikrar untuk bersatu sehidup-semati tidak mempersoalkan masalah keyakinan yang berbeda antar mereka. Namun, persoalan biasanya akan timbul manakala mereka mulai menjalani kehidupan berumahtangga. Mereka baru sadar bahwa perbedaan tersebut sulit disatukan. Masing-masing membenarkan keyakinannya dan berusaha untuk menarik pasangannya agar mengikutinya. Meski tak selalu, hal ini seringkali terjadi pada pasangan suami-istri yang berbeda keyakinan, sehingga keributan pun tak dapat terhindarkan.
Solusi
Kondisi di atas akan menjadi konflik yang berkepanjangan bila masing-masing pihak tidak memiliki toleransi. Biasanya, pasangan yang berbeda keyakinan, sebelum menikah, sepakat untuk saling menghargai keyakinan pasangannya. Nah, tetaplah pegang janji itu, dan cobalah untuk saling menghargai. Kalaupun di tengah jalan Anda atau pasangan sepakat untuk memilih satu keyakinan saja, sebaiknya ini bukan karena unsur paksaan.

6. MERTUA

Kehadiran mertua dalam rumahtangga seringkali menjadi sumber konflik, karena terlalu ikut campurnya mertua dalam urusan rumahtangga anak dan menantunya.
Solusi
Kesal sih kesal, namun tetap harus terkendali. Bila Anda tidak berkenan dengan komentar ataupun teguran dari mertua, jangan langsung mengekspresikannya di depan mertua. Cobalah berpikir tenang, ajaklah suami bertukar pikiran untuk mengatasi konflik Anda dengan orangtua. Ingat, segala sesuatu, jika diselesaikan dengan pikiran tenang, hasilnya akan baik.

7. RAGAM PERBEDAAN

Menyatukan dua hati, berarti menyatukan dua kepribadian dan selera yang tentu saja juga berbeda. Misalnya suami seorang yang pendiam, sementara istri cerewet dan meledak-ledak emosinya. Suami senang makanan manis, istri senang makanan yang serba pedas. Nah, kedua pribadi ini bila disatukan biasanya tidak nyambung, belum lagi soal hobi atau kesenangan. Suami hobi berlibur ke pantai, sementara istri lebih suka berlibur di tempat yang ramai. Masing-masing tidak ada yang mau ngalah, akhirnya ribut juga.
Solusi
Perbedaan-perbedaan ini akan terus ada, meski umur perkawinan sudah puluhan tahun. Namanya saja menyatukan dua kepribadian. Jadi, kunci untuk mengatasi perbedaan ini adalah saling menerima dan mengisi.

Kalau suami Anda seorang yang pendiam ya imbangi, jangan terlalu cerewet. Begitupun soal kesenangan. Tak ada salahnya mengikuti kesenangannya berlibur ke pantai. Mencoba sesuatu yang baru itu indah, lho, karena ini, kan, pengalaman baru untuk Anda.

8. KOMUNIKASI TERBATAS

Pasangan suami-istri yang sama-sama sibuk biasanya tak punya cukup waktu untuk berkomunikasi. Paling-paling mereka bertemu saat hendak tidur, atau di akhir pekan. Kadangkala, untuk sarapan pagi atau makan malam bareng pun terlewatkan begitu saja. Kurangnya atau tak adanya waktu untuk saling berbagi dan berkomunikasi ini seringkali menimbulkan salah pengertian. Suami tidak tahu masalah yang dihadapi istri, demikian juga sebaliknya. Akhirnya, ketika bertemu bukannya saling mencurahkan kasih sayang, namun malah cekcok.
Solusi
Sesibuk apapun Anda dan suami, tetapkan untuk berkomitmen bahwa kebersamaan dengan keluarga adalah hal yang utama. Artinya, harus ada waktu untuk keluarga. Misalnya sarapan dan makan malam bersama. Demikian juga dengan hari libur. Usahakan untuk menikmatinya bersama keluarga. Jadi, walaupun Anda dan suami bekerja seharian di luar rumah, namun keluarga tidak terbengkalai. Waktu untuk keluarga dan karier harus seimbang. Anda dan suami harus pintar membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga.

Peran Suami dalam Kehamilan

Info Lengkap agar Suami Lebih Berperan
Dukungan dan peran serta suami dalam masa kehamilan terbukti meningkatkan kesiapan ibu hamil dalam menghadapi proses persalinan, bahkan juga memicu produksi ASI. Jadi, tunggu apa lagi?
Keterlibatan Anda, para pria, sejak awal masa kehamilan, sudah pasti akan mempermudah dan meringankan pasangan dalam menjalani dan mengatasi berbagai perubahan yang terjadi pada tubuhnya akibat hadirnya sesosok “manusia mungil” di dalam perutnya.
Bahkan, keikutsertaan pria secara aktif dalam masa kehamilan, menurut sebuah penelitian yang dimuat dalam artikel berjudul “What Your Partner Might Need From You During Pregnancy” terbitan Allina Hospitals & Clinics (tahun 2001), Amerika Serikat, keberhasilan istri Anda dalam mencukupi kebutuhan ASI untuk si bayi kelak sangat ditentukan oleh seberapa besar peran dan keterlibatan Anda dalam masa-masa kehamilannya.
Trimester pertama: masa penuh gejolak emosi
Selama hamil, ada begitu banyak perubahan pada tubuh pasangan Anda, dan yang paling menonjol adalah perubahan keadaan emosinya. Apa sebabnya? Kadar hormon estrogen dan progesteron di dalam tubuhnya berubah. Tak mengherankan bila mood -nya berubah-ubah terus. Kalau sudah begini, siapa lagi, selain Anda, yang paling tepat untuk membantunya melalui masa-masa ini? Yang pasti, jangan merasa sebal kalau Anda harus terus-terusan standby untuk sewaktu-waktu “dipanggil” sebagai teman curhat, namun di lain waktu “dipanggil” sebagai “tukang pompa” semangatnya. Pintar-pintar atur peran saja!
Berikut beberapa hal yang bisa jadi “bekal” bagi Anda saat “berurusan” dengan pasangan.
Yang dialami pasangan:
- Sering mual-mual dan muntah, terutama pada pagi hari, karena dia mengalami morning sickness.
- Menjadi cepat lelah dan mudah mengantuk.
- Mungkin tiba-tiba meminta atau menginginkan sesuatu yang “aneh”. Misalnya, mengelus-elus perut buncit penjual daging di pasar atau makan rujak jam 2 pagi.
- Emosinya cepat sekali berubah. Semula tampak gembira, namun dalam beberapa detik bisa mendadak menangis tersedu-sedu, merasa tertekan dan sedih, tanpa sebab yang jelas atau karena masalah sepele.
Yang dapat Anda lakukan:
- Bawakan krekers dan air putih atau jus buah ke tempat tidur. Sehingga, begitu dia bangun dan morning sickness mendera, keluhan yang dirasakannya langsung “hilang” berkat perhatian dan kasih sayang Anda.
- Buatlah pasangan merasa nyaman, sehingga dia dapat beristirahat dan cukup tidur. Misalnya, memutar lagu-lagu yang lembut.
- Bersiaplah menghadapi “ujian” untuk mengukur seberapa besar cinta Anda padanya. Jangan kaget bila dia menginginkan sesuatu yang “aneh” di tengah malam! Dia ‘ kan sedang ngidam ! Bila mampu, tak ada salahnya memenuhi permintaannya. Siapa tahu Anda “lulus ujian” dengan nilai cemerlang nantinya.
- Tunjukkan rasa bahagia dan antusias terhadap janin dalam kandungan. Sapaan yang ekspresif terhadap si kecil, misalnya “Hallo, lagi ngapain di situ?” atau seruan “Woa…” sudah merupakan dukungan mental yang menyenangkan hati. Juga, ungkapkan perasaan cinta Anda padanya karena pada saat-saat seperti ini dia membutuhkan perhatian dan kasih sayang Anda lebih dari biasanya.
Trimester kedua: masa-masa bahagia
Inilah saatnya pasangan merasakan nikmatinya masa-masa kehamilan. Makanya, Anda tidak sebegitu “tersiksanya” ketimbang trimester lalu. Dan, mulai ikut merasakan gerakan janin mau tidak mau akan “menyentil” Anda kalau sekarang ini Anda baru bisa “benar-benar” merasakan peran baru Anda, sebagai calon ayah!
Yang dialami pasangan:
- Emosi cenderung lebih stabil dan keluhan morning sickness juga jauh berkurang.
- Si kecil sudah mulai “beraksi”.
- Merasa bahagia dengan kehamilannya sehingga lebih bersemangat melakukan latihan (olahraga ringan sesuai anjuran dokter) serta beraktivitas.-
- Cukup nyaman dengan keadaannya, sehingga mulai timbul keinginan untuk menikmati hubungan seks.
Yang dapat Anda lakukan:
- Tetap menunjukkan kalau Anda mengerti dan memahami benar perubahan emosi yang cepat serta perasaan lebih peka yang dialaminya, sebab ini wajar dan alami terjadi pada ibu hamil.
- Dampingi dan antarlah selalu pasangan setiap kali berkunjung ke dokter kandungan untuk memeriksakan kandungannya.
- Dampingi dan berpartisipasilah secara aktif di kelas senam hamil (senam Lamaze) bersamanya.
- Ajaklah dia untuk kembali menikmati hubungan seks.
Trimester ketiga: takut dan cemas menghadapi hari-H
Masa ini merupakan masa-masa penantian yang “melelahkan”. “Perjalanan” menuju persalinan tinggal hitungan hari saja. Itu sebabnya, Anda akan lebih banyak berperan sebagai a shoulder to cry on.
Yang dialami pasangan:
- Semakin dekat dengan hari-H, biasanya dia merasa semakin takut dan cemas.
- Merasa penampilannya tidak menarik karena perubahan bentuk fisiknya.
- Sering mengeluh sakit, pegal, ngilu, dan berbagai rasa tidak nyaman pada tubuhnya, terutama pada punggung dan panggul, karena bayi sudah semakin besar dan sudah mulai menyiapkan diri untuk lahir.
- Mengeluh sulit tidur karena perutnya yang semakin membesar itu akan membuatnya tidak nyaman ketika berbaring.
Yang dapat Anda lakukan:
- Bantu pasangan untuk mengatasi rasa cemas dan takut dalam menghadapi proses persalinan. Misalnya, dengan mengalihkan perhatiannya dengan cara mengajaknya berbelanja keperluan si kecil.
- Pujilah kalau dia tetap cantik dan menarik. Berbagai perubahan fisik tidak sedikitpun mengurangi kadar cinta Anda padanya.
- Bantulah meringankan berbagai keluhan. Misalnya, dengan memijat pegal-pegal di belakang tubuhnya.
- Bersiaplah untuk membantu dan menemaninya saat dia sulit tidur.

Kunci Sukses Menjadi Suami/Istri Ideal

Astaga!HidupGaya - Ketika kita memutuskan untuk menikah, tentunya kita berangan-angan ingin menjadi suami atau istri yang baik. Nyatanya untuk jadi suami atau istri yang ideal itu susah-susah gampang terutama bila Anda berdua sama-sama meniti karir. Well... Lantas bagaimana caranya supaya Anda dan si dia mampu menjadi pasangan suami istri yang ideal? Yuk simak terus yang berikut ini.
Menjadi suami atau istri ideal sama sulitnya. Tapi jika Anda berdua dapat saling, dukung dan mampu mengatur keseimbangan, predikat sebagai pasangan yang membanggakan bisa Anda dapatkan.
Semua yang ada di dunia ini harus seimbang. Tanpa keseimbangan, kehidupan akan menjadi kacau, termasuk kehidupan rumah tangga. Tanpa adanya keseimbangan seorang suami mungkin tidak akan mampu menjadi ayah yang baik bagi anak-anaknya. Tanpa keseimbangan pula, seorang ibu yang bekerja belum tentu mampu menjadi seorang pegawai yang baik di kantor, atau memerankan ibu sekaligus istri yang baik di rumah. Lalu, keseimbangan seperti apa yang mampu memengaruhi keharmonisan rumah tangga?
KESEIMBANGAN PERAN
Bicara mengenai keseimbangan peran, bisa jadi Anda langsung membayangkan apa saja yang sudah Anda kerjakan dan apa saja yang seharusnya dilakukan pasangan Anda. Padahal jika mau ditelaah lagi, tak ada salahnya Anda mulai berbagi peran dengan pasangan agar tercipta suatu keseimbangan dalam rumah tangga.
Sebelumnya, coba Anda lihat bagaimana karakter pasangan dalam bekerja. Jika pasangan termasuk workaholic, sanggupkah ia menjadi suami ideal? Menurut pendapat psikolog, setiap suami sangat berpeluang besar menjadi bapak dan pasangan hidup yang baik. Terlepas ia pekerja keras atau pun tidak. Karena, kunci sukses terletak pada keseimbangan. Demikian sebaliknya dengan Anda. Sejauh mana Anda mampu membagi kesibukan di kantor dengan urusan rumah tangga.
Untuk mencapai keseimbangan sangat diperlukan kesadaran Anda dan pasangan untuk menempatkan segala sesuatu pada porsi yang tepat. Persoalan pekerjaan ditempatkan di kantor saja dan jangan pernah dibawa pulang ke rumah. Begitu pun sebaliknya. Persoalan rumah dan segala krisisnya hanyalah sebatas di lingkup rumah tangga.
Menghadirkan kesadaran memang bukan persoalan mudah. Karenanya harus ada komunikasi yang baik dalam rumah tangga. Terlebih lagi bila Anda berdua adalah pekerja. Saling pengertian untuk tidak saling mengganggu ketika masing-masing menjalankan tugasnya merupakan suatu yang wajib.
KESEIMBANGAN WAKTU
Selain keseimbangan peranan, keseimbangan dan fleksibilitas waktu pun perlu menjadi perhatian Anda berdua. Di sini perlu ditekankan agar tidak terlalu memaksakan keadaan ketika kondisi memang tidak memungkinkan. Contoh yang paling mudah adalah ketika Anda harus belanja bulanan sepulang kantor, sementara pasangan sedang rapat dengan direksi. Jika Anda berpikir secara subjektif, tentu Anda akan merasa pasangan tak memperhatikan kebutuhan keluarga. Tapi cobalah sesekali kerjakan sendiri aktivitas tersebut, atau bisa saja Anda menelepon adik minta ditemani. Sebagai gantinya, rayulah pasangan untuk membayar waktunya di akhir pekan dengan menemani si kecil jalan-jalan sementara Anda menghabiskan waktu di salon.
Selain itu, segala pekerjaan dalam rumah tangga tidak mesti terpatok pada tatanan yang baku. Rumah tangga jangan dibuat kaku: suami harus harus begini, istri harus begitu. Untuk yang sama-sama pekerja akan sangat repot. Fleksibilitas adalah kuncinya, sebab tidak ada yang bisa memastikan pada kondisi tertentu kits tetap bisa melakukan hal yang sama.
DISKUSI
Sebagai pekerja, ada banyak hal yang mesti dilakukan sebagai tuntutan karier. Karena itu, sebaiknya Anda mengadakan semacam perjanjian tak tertulis dengan pasangan-yang pasti harus diawali dengan diskusi terbuka jika Anda berdua sama-sama bekerja. Dalam hal ini bisa saja diputuskan, pada hari-hari tertentu jika pasangan sedang tidak bisa menjemput Anda pulang kantor, jangan langsung meributkannya. Demikian pula jika pasangan tidak bisa mengerjakan tugasnya di rumah. Anda bisa menggantikan, begitu pula sebaliknya.
Hal ini juga akan menjadi penyaring timbulnya pemikiran-pemikiran yang negatif tentang pasangan. Contoh sepele, Anda curiga pasangan tidak sayang lagi hanya karena tidak menjemput, atau pemikiran salah lainnya yang malah akan memunculkan kerikil baru dalam rumah tangga. Jadi, sebetulnya tak perlu lagi ada hal yang dipertengkarkan jika posisi Anda berdua seimbang. Anda boleh saja sibuk, tapi jangan sampai melupakan kodrat Anda sebagi ibu dan istri. Sebaliknya, Anda harus mampu memberi pengertian kepada pasangan untuk berbuat sama.
Dengan langkah seperti ini tak perlu lagi ada amarah di antara Anda berdua. Yang pasti, yakinlah bahwa peran yang seimbang mampu menjadikan rumah tangga terasa lebih sehat dan langgeng.

Kewajiban Suami Isteri dalam Islam


Sebagai bahan referensi dan renungan bahkan tindakan, berikut, garis besar hak dan kewajiban suami isteri dalam Islam yang di nukil dari buku “Petunjuk Sunnah dan Adab Sehari-hari Lengkap” karangan H.A. Abdurrahman Ahmad.
Hak Bersama Suami Istri
- Suami istri, hendaknya saling menumbuhkan suasana mawaddah dan rahmah. (Ar-Rum: 21)
- Hendaknya saling mempercayai dan memahami sifat masing-masing pasangannya. (An-Nisa’: 19 - Al-Hujuraat: 10)
- Hendaknya menghiasi dengan pergaulan yang harmonis. (An-Nisa’: 19)
- Hendaknya saling menasehati dalam kebaikan. (Muttafaqun Alaih)
Adab Suami Kepada Istri .
- Suami hendaknya menyadari bahwa istri adalah suatu ujian dalam menjalankan agama. (At-aubah: 24)
- Seorang istri bisa menjadi musuh bagi suami dalam mentaati Allah clan Rasul-Nya. (At-Taghabun: 14)
- Hendaknya senantiasa berdo’a kepada Allah meminta istri yang sholehah. (AI-Furqan: 74)
- Diantara kewajiban suami terhadap istri, ialah: Membayar mahar, Memberi nafkah (makan, pakaian, tempat tinggal), Menggaulinya dengan baik, Berlaku adil jika beristri lebih dari satu. (AI-Ghazali)
- Jika istri berbuat ‘Nusyuz’, maka dianjurkan melakukan tindakan berikut ini secara berurutan: (a) Memberi nasehat, (b) Pisah kamar, (c) Memukul dengan pukulan yang tidak menyakitkan. (An-Nisa’: 34) … ‘Nusyuz’ adalah: Kedurhakaan istri kepada suami dalam hal ketaatan kepada Allah.
- Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah, yang paling baik akhlaknya dan paling ramah terhadap istrinya/keluarganya. (Tirmudzi)
- Suami tidak boleh kikir dalam menafkahkan hartanya untuk istri dan anaknya.(Ath-Thalaq: 7)
- Suami dilarang berlaku kasar terhadap istrinya. (Tirmidzi)
- Hendaklah jangan selalu mentaati istri dalam kehidupan rumah tangga. Sebaiknya terkadang menyelisihi mereka. Dalam menyelisihi mereka, ada keberkahan. (Baihaqi, Umar bin Khattab ra., Hasan Bashri)
- Suami hendaknya bersabar dalam menghadapi sikap buruk istrinya. (Abu Ya’la)
- Suami wajib menggauli istrinya dengan cara yang baik. Dengan penuh kasih sayang, tanpa kasar dan zhalim. (An-Nisa’: 19)
- Suami wajib memberi makan istrinya apa yang ia makan, memberinya pakaian, tidak memukul wajahnya, tidak menghinanya, dan tidak berpisah ranjang kecuali dalam rumah sendiri. (Abu Dawud).
- Suami wajib selalu memberikan pengertian, bimbingan agama kepada istrinya, dan menyuruhnya untuk selalu taat kepada Allah dan Rasul-Nya. (AI-Ahzab: 34, At-Tahrim : 6, Muttafaqun Alaih)
- Suami wajib mengajarkan istrinya ilmu-ilmu yang berkaitan dengan wanita (hukum-hukum haidh, istihadhah, dll.). (AI-Ghazali)
- Suami wajib berlaku adil dan bijaksana terhadap istri. (An-Nisa’: 3)
- Suami tidak boleh membuka aib istri kepada siapapun. (Nasa’i)
- Apabila istri tidak mentaati suami (durhaka kepada suami), maka suami wajib mendidiknya dan membawanya kepada ketaatan, walaupun secara paksa. (AIGhazali)
- Jika suami hendak meninggal dunia, maka dianjurkan berwasiat terlebih dahulu kepada istrinya. (AI-Baqarah: ?40)
Adab Isteri Kepada Suami
- Hendaknya istri menyadari clan menerima dengan ikhlas bahwa kaum laki-Iaki adalah pemimpin kaum wanita. (An-Nisa’: 34)
- Hendaknya istri menyadari bahwa hak (kedudukan) suami setingkat lebih tinggi daripada istri. (Al-Baqarah: 228)
- Istri wajib mentaati suaminya selama bukan kemaksiatan. (An-Nisa’: 39)
- Diantara kewajiban istri terhadap suaminya, ialah:
a. Menyerahkan dirinya,
b. Mentaati suami,
c. Tidak keluar rumah, kecuali dengan ijinnya,
d. Tinggal di tempat kediaman yang disediakan suami
e. Menggauli suami dengan baik. (Al-Ghazali)
- Istri hendaknya selalu memenuhi hajat biologis suaminya, walaupun sedang dalam kesibukan. (Nasa’ i, Muttafaqun Alaih)
- Apabila seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidur untuk menggaulinya, lalu sang istri menolaknya, maka penduduk langit akan melaknatnya sehingga suami meridhainya. (Muslim)
- Istri hendaknya mendahulukan hak suami atas orang tuanya. Allah swt. mengampuni dosa-dosa seorang Istri yang mendahulukan hak suaminya daripada hak orang tuanya. (Tirmidzi)
- Yang sangat penting bagi istri adalah ridha suami. Istri yang meninggal dunia dalam keridhaan suaminya akan masuk surga. (Ibnu Majah, TIrmidzi)
- Kepentingan istri mentaati suaminya, telah disabdakan oleh Nabi  saw.: “Seandainya dibolehkan sujud sesama manusia, maka aku akan perintahkan istri bersujud kepada suaminya. .. (Timidzi)
- Istri wajib menjaga harta suaminya dengan sebaik-baiknya. (Thabrani)
- Istri hendaknya senantiasa membuat dirinya selalu menarik di hadapan suami(Thabrani)
- Istri wajib menjaga kehormatan suaminya baik di hadapannya atau di belakangnya (saat suami tidak di rumah). (An-Nisa’: 34)
- Ada empat cobaan berat dalam pernikahan, yaitu: (1) Banyak anak (2) Sedikit harta (3) Tetangga yang buruk (4) lstri yang berkhianat. (Hasan Al-Bashri)
- Wanita Mukmin hanya dibolehkan berkabung atas kematian suaminya selama empat bulan sepuluh hari. (Muttafaqun Alaih)
- Wanita dan laki-laki mukmin, wajib menundukkan pandangan mereka dan menjaga kemaluannya. (An-Nur: 30-31)
Isteri Sholehah
- Apabila’ seorang istri, menjaga shalat lima waktu, berpuasa pada bulan Ramddhan, memelihara kemaluannya, dan mentaati suaminya, niscaya Allah swt. akan memasukkannya ke dalam surga. (Ibnu Hibban)
- Istri sholehah itu lebih sering berada di dalam rumahnya, dan sangat jarang ke luar rumah. (Al-Ahzab : 33)
- Istri sebaiknya melaksanakan shalat lima waktu di dalam rumahnya. Sehingga terjaga dari fitnah. Shalatnya seorang wanita di rumahnya lebih utama daripada shalat di masjid, dan shalatnya wanita di kamarnya lebih utama daripada shalat di dalam rumahnya. (lbnu Hibban)
- Hendaknya menjadikan istri-istri Rasulullah saw. sebagai tauladan utama.

Kiat menjadi istri solehah

1. Jangan membiarkan suami anda memandang dalam keadaan anda tidak
menggembirakannya. Wanita yang paling baik adalah wanita yang selalu
membuat suaminya bahagia.
2. Hendaklah senyum itu senatiasa menghiasi bibirmu setiap anda dipandang oleh
sang suami.
3. Perbanyaklah mencari keridhan suami dengan mentaatinya, sejauh mana
ketaatan anda kepada suami, sejauh itu pulalah dia merasakan cintamu
kepadanya dan dia akan segera menuju keridhaanmu.
4. Pilihlah waktu ynag tepat untuk meluruskan kesalahan suami.
5. Jadilah anda orang yang lapang dada, janganlah sekali-kali menyebut-nyebut
kekurangan suami anda kepada orang lain.
6. Perbaikilah kesalahan suami dengan segala kemampuan dan kecintaan yang
anda miliki, janganlah berusaha melukai perasaannya.
7. Janganlah memuji-muji laki-laki lain dihadapan suami kecuali sifat diniyah yang
ada pada laki-laki tersebut.
8. Jangan engkau benarkan ucapan negatif dari orang lain tentang suamimu.
9. Upayakan untuk tampil di depan suamimu dengan perbuatan yang disenanginya
dan ucapan yang disenanginya pula.
10. Berilah pengertian kepada suami anda agar dia menghormatimu dan saling
menghormati dalam semua urusan.
11. Anda harus selalu merasa senang berkunjung kepada kedua orang tuanya.
12. Janganlah anda menampakkan kejemuan padanya, jika terjadi kekurangan
materi Ingatlah bahwa apa yang ia berikan kepadamu sudah lebih dari cukup.
13. Biasakanlah anda tertawa bila ia tertawa, menangis dan bersedih jika ia
bersedih. Karena bersatunya perasaan akan melahirkan perasaan cinta kasih.
14. Diam dan perhatikanlah jika ia berbicara.
15. Janganlah banyak mengingatkan bahwa anda pernah meminta sesutu
kepadanya. Bahkan jangan diingatkan kecuali jika anda tahu bahwa ia mudah
untuk diingatkan.
16. Janganlah anda mengulangi kesalahan yang tidak disenangi oleh suami anda
dan ia tidak suka melihatnya.
17. Jangan lupa bila anda melihat suami anda shalat sunnah di rumah, hendaknya
anda berdiri dan ikut shalat dibelakangnya. Jika ia membaca, hendaknya anda
duduk mendengarkannya.
18. Jangan berlebih-l;ebihan berbicara tentang angan-angan pribadi di depan suami,
tetapi mintalah selalu agar ia menyebutkan keinginan pribadinya di depanmu.
Ummu Salma 1 dari 2 23/03/2007
http://www.ummusalma.wordpress.com
Maktabah Ummu Salma al-Atsariyah
19. Janganlah mendahulukan pendapatmu dari pendapatnya pada setiap masalah,
baik yang kecil maupun yang besar. Hendaklah cintamu kepadanya mendorong
anda mendahulukan pendapatnya.
20. Janganlah anada mengerjakan shaum sunnah kecuali dengan izinnya, dan
jangan keluar rumah kecuali dengan sepengetahuannya.
21. Jagalah rahasia yang disampaikan kepadamu dan janganlah menyebarkannya
sekalipun kepada kedua orang tuanya.
22. Hati-hati jangan sampai menyebut-nyebut bahwa anda lebih tinggi derajatnya
dari derajat suami. Hal itu akan mengundang kebencian kepadamu.
23. Jika salah satu dari orang tuanya sakit atau kerabatnya, maka anda punya
kewajiban untuk menjenguk bersamanya.
24. Sesuaikanlah peralatan rumah tangga anda dengan barang-barang yang
disenangi suami anda.
25. Jangan sampai anda meninggalkan rumah meskipun sedang bertengkar
dengannya.
26. Katakanlah kejemuan dan kebosananmu ketika ia sudah meninggalkan rumah.
27. Terimalah udzurnya ketika ia membatalkan janjinya untuk keluar bersamamu,
karena mungkin ia terpaksa memenuhi panggilan orang yang datang kepadanya.
28. Hindari sifat cemburu, sesungguhnya cemburu adalah senjata penghancur.
29. Janganlah mengabaikan pemimpinmu (suami) dengan alasan bahwa ia telah
menjadi suamimu.
30. Janganlah anda berbicara dengan sang suami, seakan-akan anda suci dan dia
berdosa.
31. Jagalah perasaannya, jangan gembira ketika dia sedang sedih dan jangan
menangis ketika dia gembira.
32. Perbanyaklah menyebut-nyebut keutamaan suami di hadapannya.
33. Perlihatkan kepada suamimu bahwa anda turut merasakan apa yng dirasakan
sang suami tatkala ia tidak berhasil mencapai maksud dan tujuannya.
34. Perbaharuilah (tekad suami) ketika terjadi kegagalan.
35. Jauhilah sifat dusta karena hal itu kanmenyakitkannya.
36. Ingatkanlah selalu pada suamimu bahwa anda tidak tahu (bagaimana nasib
anda) seandainya anda tidak dipersunting olehnya.
37. Ucapkanlah rasa syukur dan terima kasih pada waktu ia memberikan sesuau
kepadamu.